Monthly Archives: June 2016

JABAL UHUD

travel umroh, haji dan umroh, haji plus

JABAL UHUD

MENGENAL SEJARAH JABAL UHUD

Rosullullah pernah bersabda “ jika kamu ingin melihat salah satu gunung di syurga lihatlah gunung uhud itu” hadist riwayat HR Bukhori. Sabda itu berarti jika anda berkeinginan melihat gunung di syurga berziarahlah di gunung uhud. Jabal uhud ini merupakan sebuah tempat bersejarah yang akan selalu di kenang oleh setiap muslim. Dalam sejarah dulu pada jabal uhud ini telah terjadi perang yang sangat besar antara umat islam yang berjumlah 700 orang dan kaum kafir quraisy yang berjumalah 3.000 orang pada 15 Syawal 3 hijriyah 625 Masehi, yang kini lebih di kenal dalam perang uhud yang mana dalam perang tersebut sebanyak 70 pejuang islam terbunuh dan mati syahid, sementara pada kubu kafir quraisy terbunuh 20 orang. yang mana perang uhud ini memang di menangkan oleh kubu kafir quraisy.

PERANG UHUD

Dalam perang uhud ini semua pasukan umat muslim di pimpin langsung oleh Rosullullah. Beliau mengambil posisi berada di atas gunung uhud, dan ketika para kaum musyrikin datang mereka akan menyerbu dengan anak panah. Rosullullah menempatkan beberapa pasukan pemanah pada gunug karimah sebelah gunung uhud yang di pimpin oleh Masha’b bin Umar.

Sebenarnya dalam perang uhud ini kaum muslimin sudah mencapai kemenangan namun, para pemanah yang berada di atas gunung porak-poranda ketika kaum musyrikin memberi mereka umpan uang serta emas-emas yang mereka sebarkan, padahal Rosullullah telah berpesan kepada mereka untuk tidak tergiur dengan apa yang di bagikan oleh kaum quraisy.

Dalam perang ini pasukan kaum muslimin 70 pejuang islam mati terbunuh antara lain paman nabi Hamzah bin Abdul Muthalib. Bahkan Rosullullah juga menderita luka-luka pada sekujur tubuhnya.
Nabi memerintahkan bahwa semua pejuang yang berjumlah 70 orang yang telah meninggal tersebut untuk dimakamkan dimana mereka gugur. Sehingga di jabal uhud terdapat satu liang kubur yang di dalamnya terkubur beberapa syuhada. Yang mana tempat tersebut di kelilingi oleh tembok besar yang di dalamnya tidak ada tanda-tanda seperti makam karena di dalamnya tidak ada batu nisan sama sekali.
Itulah keutamaan jabal uhud yang patut dijadikan tempat sejarah umat islam. Bahkan bagi setiap umat islam yang melakukan ibadah haji dan umroh mereka di wajibkan untuk berziarah di jabal uhud ini, untuk berziarah di makam para syuhada serta mendoakannya.

Melihat Lokasi dan kawasan yang mengelilingi jabal uhud sangat terjal dan curam, banyak sekali orang-orang yang menangis membayangkan bagaimana dulu Rosullullah dan para syuhada melakukan perang dengan lokasi yang sangat tidak mendukung. Para jamaah travel umroh maupun ketika melaksanakan haji plus selalu melakukan doa bersama untuk para suhada Uhud.

Pada tempat pemakaman para syuhada di jabal uhud ini para pemerintah Arab Saudi memberikan pengumuman bagi setiap pengunjung yang datang dengan berbagai bahasa termasuk juga bahasa Indonesia. Pengumuman itu berisi tentang para peziarah dilarang melakukan hal-hal seperti mengusap-usap kuburan, di takutkan hal ini bisa menimbulkan kemusyrikan. Seperti juga para jamaah dilarang membawa tanah atau batu dari tempat tersebut dengan tujuan yang tidak baik.

Masjid Qiblatain

haji plus, info haji, haji dan umroh

Masjid Qiblatin

SEJARAH MASJID QIBLATAIN

Sewaktu manasik, semua info haji dijelaskan termasuk tentang Sejarah Masjid Qiblatain yang merupakan sebuah masjid yang unik di dunia yang memiliki 2 arah kiblat yang berbeda, hal itulah yang membuat masjid ini memiliki sejarah yang wajib di ketahui semua umat muslim di dunia.

Mendengar hal tersebut mungkin bagi anda yang belum tahu mengenai sejarah masjid qiblatain ini pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa masjid di madinah yang satu ini memiliki 2 arah kiblat? Padahal pada saat itu masih ada Rasullullah saw yang selalu memberitahukan jalan yang benar.

Sudah penasaran ?, Silahkan baca ulasan kami mengenai sejarah masjid Qiblatain , yang memiliki 2 arah kiblat tersebut

Sebelum menjadi masjid Qiblatain masjid ini bernama masjid bani salamah yang tempatnya berada di atas bukit kecil di Quba di sebelah utara Harrah Wabrah Madinah. Sejarah terjadinya perpindahan 2 kiblat di masjid Qiblatin ini berawal pada tahun 2 Hijriyah bulan Rojab dimana saat itu nabi berkunjung ke Salamah atau madinah bermaksut menenangkan Ummu Bishr binti Al-Bara yang saat itu sedang berduka cita karena di tinggal meninggal oleh keluarganya.

Tepat pada saat itu juga nabi melaksanakan sholat dzuhur di masjid bani salamah bersama dengan para sahabatnya dan orang-orang muslim yang ada di Madinah. Pada saat itu arah kiblat yang ada di masjid bani salamah masih menghadap di baitul maqdis, Yerussalem, Palestina. 2 rokaaat sholat dzuhur yang dijalankan Rosullullah pada waktu itu masih menghadap ke arah baitul maqdis.

Namu ketika saat nabi selesai menjalankan rokaat yang ke 2, datanglah malaikat jibril kepada nabi serta menyampaikan sebuah wahyu pada nabi tentang perpindahan arah kiblat. Perintah ini dapat juga dibaca pada surat Al-baqarah ayat 144, Allah berfirman:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Setelah mendapatkan wahyu dari ALLAH S.W.T, seketika itu juga Rasullulah S.A.W memutar 180 derajat arah kiblatnya dari baitul maqdis, Yerussalem, Palestina [arah utara kota Madinah] kearah sebaliknya tepat ke arah ka’bah Masjidil haram arah selatan Madinah. Seketika itu juga para makmum pun mengikuti perpindahan tersebut yang hingga kini menjadi arah kiblat umat muslim seluruh dunia.

Setelah kejadian itulah masjid bani salamah disebut dengan masjid qiblatain atau masjid 2 kiblat. Di lokasi masjid Qiblatain ini terdapat juga sumur orang yahudi yang dibeli oleh usman bin Affan seharga 20.000 dirham yang kini telah di wakafkannya. Sumur tersebut digunakan untuk bersuci, t sumber air minum dan banyak hal lainnya hingga saat ini.

Itulah sejarah masjid Qiblatain yang bisa anda ketahui, masjid di Madinah yang memiliki 2 arah kiblat di dalam masjidnya. Jika anda melaksanakan haji plus, haji reguler maupun umroh ke kota Madinah, jangan lupa untuk mengunjungi serta sholat di masjid Qiblatain ini.

Menunaikan Ibadah Haji Plus

haji plus, umroh dan haji, info haji

Depan Mesjid Nabawi

haji plus, info haji, haji dan umroh

Depan Masjid Nabawi

Mesjid Nabawi

Sewaktu menunaikan ibadah haji plus, sempat berfoto bersama jamaah haji dan umroh lainnya di depan Masjid Nabawi.

Kegiatan

Pada para jamaah haji, info haji  sewaktu manasik sudah diberikan. karena perjalanan yang akan ditempuh akan berbeda dengan waktu kita sampai disaudi. Sebagian jamaah haji maupun haji plus yang datang awal akan melakukan perjalanan keMadinah terlebih dahulu baru kemudian melakukan umroh dengan mikot diBird Ali melanjutkan perjalanan keMakkah. Bagi jamaah haji yang datang belakangan akan terus keMakkah melakukan umroh dengan mikot dibandara King Abdul Aziz.

Haji dilakukan pada waktu tertentu, haji dan umroh diwaktu berhaji bisa dilakukan keduanya.

 

indo haji, haji plus, haji dan umroh

Raudah

Keutamaan Shalat Dan Beribadah Di Raudhah

Raudhah adalah area di sekitar mimbar yang biasa digunakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berkhutbah yang selalu di kunjungi oleh para jamaah pada waktu haji dan umroh.

info haji, haji dan umroh, haji plus

Raudah

Hadits keutamaanraudhah

Syaikh Abdullah bin Jibrinrahimahullahketika ditanya mengenai hadits:

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga

Beliau menjelaskan: “hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah dan beliau menilai hadits ini hasan gharib dari Ali. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan selainnya dari jalan lain yang di dalamnya terdapat tambahan:

ومنبري على حوضي

dan mimbarku (kelak) akan berada di atas telagaku

Makna hadits ini menyatakan bahwa area tersebut (raudhah) memiliki kemuliaan dan keutamaan. Barangsiapa yang shalat di sana seakan-akan ia telah duduk di taman dari taman-taman surga. Sehingga menjadikan shalat yang dilakukan di sana berpahala banyak. Sebagaimana juga shalat di bagian masjid Nabawi yang lain dilipat-gandakan pahalanya 1000 kali dari shalat di masjid lain kecuali masjidil haram”[1].

Disunnahkan beribadah di raudhah

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah juga mengatakan: “raudhah adalah area di sekitar mimbar yang biasa digunakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berkhutbah. Berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas, raudhah ini termasuk dalam taman-taman surga. Oleh karena itu disunnahkan shalat di raudhah baik shalat fardhu ataupun shalat sunnah. Demikian juga disunnahkan i’tikaf atau duduk untuk berdzikir atau membaca Al Qur’an di sana. Karena beribadah di sana terdapat pelipat-gandaan pahala” [2].

Beberapa kesalahan-kesalahan di raudhah

Walaupun dianjurkan beribadah di raudhah, para ulama juga memperingatkan beberapa kesalahan yang wajib dijauhi ketika berada di-raudhah. Diantaranya adalah:

  • Ikhtilath (campur-baur) antara lelaki dan wanita di-raudhah
  • Ngalap berkah kepada kuburan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan cara mengusap-usap dindingnya atau dengan cara lainnya
  • Masuk ke raudhah bermaksud untuk mendekat kepada kuburan Nabi dan beribadah kepada kuburan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
  • Ngalap berkah dengan mimbar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan cara mengusap-usapnya

Syaikh Abdullah bin Jibrin menjelaskan, “kami berpandangan bahwa tidak boleh bagi wanita untuk shalat di raudhah jika di sana ada para lelaki, atau jika dikhawatirkan mereka terlihat oleh para lelaki. Juga tidak dibolehkan jika tujuan masuk ke raudhah adalah untuk mendekati kuburan Nabi. Adapun jika di masjid tidak terdapat lelaki maka tidak mengapa wanita masuk ke raudhah yang letaknya antara mimbar dan rumah Nabi untuk melakukan shalat atau ibadah sunnah lainnya”.

Beliau melanjutkan, “Dan tidak diperbolehkan juga baik bagi wanita maupun laki-laki untuk mengusap-usap dinding kuburan Nabi atau pun mengusap-usap mimbar Nabi ataupun benda lainnya yang ada di raudhah. Yang dituntut ketika berada di raudhah adalah mengerjakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah dengan penuh kekhusyukan dan menghadap ke kiblat (bukan ke kuburan Nabi ).